Senin, 23 Januari 2017

Berjuang karena allah

‘Berjuang karena allah’
Ainur Ridwan

Ku sampaikan pesanku lewat kata kata yang tak bersuara ini untuk dirimu yang sedang bosan kepadaku

Berjuang untuk menaklukan hatimu tak semudah yang terfikir dimana hati yang lembut harus melawan hati yang keras

Allah kan selalu membuka jalan untuk hambanya yang mau berusaha , tapi allah pun tau mana yang baik untukku

Dirimu mendatangi alam bawah sadarku se akan itu pertanda aku harus perjuangkanmu dengan langkah yang pastinya tak selalu lurus

Saat hati ini merasa sunyi hanya beberapa doa yang ku kirim kepada allah untukmu ku seperti menuntut untuk diberi suatu petunjuk

Entah berdosakah aku memandang matamu, atas izin allah ku selalu ingin perjuangkanmu dan atas kehendak allah bila aku harus berhenti dan menunggu takdir sesungguhnya

Ku yakin suatu saat kau mempertahankan dan menghargai orang yang memperjuangkanmu dengan penuh perasaan sayang dan takut kehilangan


Ku selalu berjuang menjadi pejuang yang memperjuangkan , allah menyertai kita 

Jumat, 13 Januari 2017

Tentang dia

“Tentang dia”
Cipt : Ainur Ridwan
Cahaya nya mulai terbenam, angan dan harapan pun mulai pudar Satu persatu bebatuan yang tersusun mulai rapuh

Air mata pun tak kan bisa mengokohkanya takkan ada yang peduli dengan  air mata yang membasahi sanubari ini

Mungkin ku ingin dipahami juga ingin dimengerti tapi tak pantas karena ku sadar siapa yang ingin ku sanding

            Lampu jalan se akan menyorotku tanah bumi seakan menarik diriku menampakkan betapa bodohnya aku

            Tak ada suara yang kudengar seperti terpenjara dalam ruang waktu di saat kesepianku semakin memuncak

Hasrat ku yang tinggi saat ku ingin berdalih semuanya tentang dia adakah air mata yang sehina air mataku

Ku ingin mendengarkan suaranya yang sangat menenangkanku seperti antioksin yang menyembuhkan racun dalam hatiku


Kemarin hari ini esok dan selamanya hanya tentang dia dan selalu tentang dia

Rabu, 11 Januari 2017

Rindu untuk perangkai bunga

‘Rindu untuk perangkai bunga’

12/01/2017
Aku zulfan, seorang lelaki perindu yang merindukan sesuatu…
Malam itu pukul 7 tepatnya setelah bersembahyang isya, ku bergegas pulang menuju kediamanku, dengan cepat kupacu kendaraanku karena kondisi badanku yang lelah “tak sabar rasanya ingin merebahkan tubuh ini”, lagi lagi jalanku tersendat oleh perempatan lampu merah itu “ahh lagi lagi lampu merah ini, mana kondisi gerimis begini ramai sekali jalan ini”, kataku menggerutu di dalam hati, ku perhatikan sudut kanan lampu merah ada seorang gadis muda berikatkan rambut satu, sedang menata bunganya yang tertutupi oleh plastik agar tidak terkena hujan ataupun cipratan air dari kendaraan yang melintas, ku berfikir untuk menghampirinya “mbak bunganya masih banyak keliatanya” tanyaku sambil menatap wajahnya yang teramat lelah sembari tersenyum itu, “iya mas Alhamdulillah” ucap pedagang itu sembari tersenyum kembali, “panggil saja saya ka zulfan, mengapa kamu masih berniat berdagang sedangkan waktu ini sudah malam ?”, kataku sembari menatap kembali wajahnya yang hanya tersenyum manis seakan tidak menyimpan beban dihatinya.. “ iya ka zul saya hanya ingin tetap disini, karena siapa tau ada beberapa rezeki datang malam ini“..jawab pedagang bunga itu.. “baik akulah yang akan membeli bungamu, keliatanya kamu pandai merangkainya dengan baik, aku memilih mawar itu yang dihiasi beberapa melati”, jawabku dengan penuh rasa iri terhadapnya, dia seorang wanita yang kuat, dikala banyak orang mengeluhkan dengan segala kecukupanya dia tetap tersenyum seakan beban itu tak ada.
Keesokan harinya ku kembali pulang menuju tempat kediamanku karena tidak ada mata kuliah tambahan untuk hari ini, kunyalakan lagi motor bebek ku yang setia mengantarku berpergian kemanapun, lagi lagi jalanku tersendat di perempatan ini “sial selalu saja dengan jalan ini , ada apa sih dengan jalan ini kalau ada jalur alternative lain ku sudi melewati jalan ini” ku kembali menggerutu di dalam hati.. tak berselang lama ku kembali melihat gadis itu perangkai bunga sudut kanan lampu merah ini “itu bukanya dia yang kemarin, sepertinya memang lokasi dia berjualan disini”.. ku menghampiri kembali wanita perangkai bunga itu yang sedang menjajakan bunga daganganya kepada pejalan kaki yang lewat ataupun hanya sekedar liat saja… “soree mbak, kayaknya lumayan ya untuk hari ini” kataku sembari basa basi untuk menyapa dan memulai obrolan, “eh sore ka zul, he’emm Alhamdulillah ini rezeki yang allah berikan buat saya hari ini ka zul ”.. jawab gadis itu sembari merangkai beberapa bunga agar terlihat cantik untuk menarik minat pembeli.. “oh iya mbak, aku belum sempat menanyakan nama mbak kemarin, kalau boleh tau siapa nama mbak ? “.. tanyaku iseng-iseng, “ namaku hanifa ka zul, panggil saja hanif “.. jawab gadis itu dengan senyuman khasnya,’ ku melihat ada satu kursi yang kosong disebelahnya “ hanif bolehkah aku duduk disini “ jawabku dengan ekspresi wajah yang cengar cengir.. “boleh ka zul silahkan saja, oh iya kenapa kaka tidak pulang ? “.. Tanya gadis itu seakan dia mencemaskan bila ku didekatnya.. “ ok terimakasih, aku bosan melihat jalanan ini, selalu saja begitu, kemacetan setiap hari, membuatku terasa jenuh” jawabku sembari nada kesal dengan raut wajah cemberut, lagi lagi gadis itu kembali tersenyum sembari berkata “ hmmm ka zul ka zul itu sudah menjadi rutinitas lalu lintas itu disini, kecuali hari raya pasti terasa sepi jalan ini “..’jawab gadis itu dengan nada yang sangat lembut dan sangat menenangkan, tak terasa 2 jam berlalu obrolanku dengan gadis itu, ku pamit dan bergegas kembali “ hanif maaf ga bisa lama-lama aku pamit dulu ya, semoga dagangan mu cepat habis “.. jawabku sembari memegangi bunga yang kembali kubeli dari gadis itu.
3 bulan berlalu setelah ku mengenal gadis perangkai itu, hampir 1 bulan kebelakang ini aku tak mengeluhkan masalah jalanan yang padat karena perempatan itu, sore itu aku kembali bergegas keluar dari kampusku untuk menuju gadis perangkai bunga itu sembari pulang menuju kediamanku, setibanya di tempat itu “ hanif gimana nih daganganya laku kayanya “ tanyaku karena sudah terbiasa dengan pertanyaan itu se akan menjadi basa basi yang terus terulang, gadis itu pun menjawab “Alhamdulillah ka zul allah masih mempercayakan rezekinya untuk hanif “ .. jawab gadis itu,.. ku berinisiatif ingin memberinya makanan ,yang kubeli tidak jauh dari kampusku “ hanif kamu udah makan belum ? kalau belum makan ini ya , kalau sudah ambil saja buat nanti “  kataku menawarkan sekotak bungkus nasi yang selalu kubawakanya.. “ hmm kazul selalu begitu, kan aku sudah bilang hemat hemat saja uang kazul, aku sudah makan kok “ jawab gadis itu dengan senyum yang sepertinya sudah menjadi bagian dari karakternya.. lalu ku berkata “ ahh jangan bohong, aku mendengar suara perutmu dari sini “ kataku sembari tertawa nakal terhadapnya.. makanan sudah habis , obrolan kami pun sudah terhitung lama untuk hari ini, kebetulan daganganya habis sebelum adzan maghrib dia bergegas merapikan barang barangnya, dia kembali berkata “ ka zul bila selama ini hanif selalu membuat kazul repot maaf ya”  kata gadis itu se akan ada sesuatu yang disembunyikanya kepadaku,, “ tidak hanif aku merasa senang , malah aku yang merasa mengganggu mu karena setiap hari datang ke tempat ini “ , jawabku sembari tersenyum melihat matanya yang se akan memberi isyarat .. “ kazul aku sepertinya harus pulang sekarang mungkin ibuku sedang menungguku dirumah “ jawab gadis itu , terlihat satu tetes air mata yang keluar dari kelopak indah matanya , yang membuat ku penasaran mengapa dia hari ini begitu “ hanif kamu kenapa, adakah perkataanku atau sifatku yang menyinggung perasaanmu ? “ kataku dengan kebingungan yang ter amat sangat.. “ tidak kazul, kazul orang baik , tidak pernah menyinggungku “ jawab gadis itu .. gadis itu pun berkata kembali “ kazul jangan pernah mengeluhkan jalanan ini kembali ya “ jawab gadis itu seraya berjalan meninggalkan tempat berdagangnya.
Keesokan hari seperti biasa ku kembali mengunjungi tempat gadis perangkai bunga itu, ku terkejut mengapa hari ini dia tidak ada, lantas ku kembali ke kediamanku, “mungkin hari ini dia tidak berdagang”.. jawabku dengan tidak ingin berfikir negatif.. sudah seminggu berlalu tapi dia belum terlihat di sudut kanan lampu merah itu ku selalu menunggu dan menunggu kehadiranya, setelah sebulan kemudian aku bertanya kepada orang sekitar tempat ia menjajakan bunga itu, ternyata kudapati surat dari seorang bapak petugas kebersihan, yang berisi..
“ untuk kazul.. dari hanifa”
            Hanifa tak akan kembali berdagang bunga, kazul jangan selalu mengeluhkan kondisi
            Perempatan itu , mudahlah untuk tersenyum agar segala beban di hati kazul luntur
            Tetap ramah baik pada siapapun.
            “salam hangat hanifa”…
Ku tak paham isinya se akan gadis itu menyampaikan pesan untuk beban dihatiku yang selalu kusimpan, seakan dia telah menghapus beban itu tapi dia tak mampu menghapus memori tentang dirinya dipikiranku, ku selalu menyimpan rindu ini , rindu untuk perangkai bunga.
Kata mutiara untuk cerpen ini (makna) : “jangan keluhkan sesuatu yang selalu membuat hari indahmu terganggu liatlah dari sisi lainya, kebahagian selalu datang dengan cara yang tak kau sadari bahkan bisa dari kebiasaan mu “ ,
 ketika tiga pilihan mendesakmu ..
tidak ada air mata bila tidak ada kegagalan,
tidak ada amarah bila tidak ada dendam,
tidak ada senyuman bila tidak ada keiikhalasan  
maka jadikanlah dan rubahlah selalu ada senyuman karena selalu ada keikhlasan

@created by Ainur Ridwan
&
Rizka syahrir




Kamis, 05 Januari 2017

SANTUNKU

“SANTUNKU”
Cipt. Ainur Ridwan

Ku ingin jarum jam itu berputar kiri.. ku ingin masa itu terulang kutekuk bagian kiri dan kanan pipiku.. menatap sebuah gambar yang kusimpan dalam memori ponselku,  dalam hatiku berkata “kalian keluarga terbaik yang aku miliki” tak terasa pipi ini pun basah seketika

Ku ingat, waktu kedua telapak tangan kalian memegang erat pundak ku seraya berkata “jagalah dirimu nak, hubungi kami bila kamu kekurangan sesuatu, berusahalah tuk tidak menyusahkan orang sekitarmu”, santunku terdiam aku tak dapat meluapkan sepatah katapun, air matapun membasahi pipi ini seperti sekarang ini sangat mirip

ku benci, iya benci mengapa harus kutinggalkan kenangan masa indah itu, masa dimana ku bercerita banyak padamu ayah, padamu ibu. Kalian sekarang menganggapku sudah dewasa, padahal aku rindu .. aku ingin meluapkan kisah ku .. keseharianku disini di dekat kalian dengan tatapan ekspresi masing masing dari kalian.. tapi kalian jauh disana

ku harap, harapku kalian selalu sehat.. mendoakan anakmu ini selalu agar ku bisa melepaskan sifat kekanak-kanakanku


ku batasi, batasi santunku aku tak terbiasa disini, tapi kalian selalu mengajarkanku untuk tak membatasi santunku, kalian pedoman terbaik untuk ku untuk menempuh hidup cerah yang akan datang

Rabu, 04 Januari 2017

Puisi Harian SELANGKAH

“SELANGKAH”
Cipt. Ainur Ridwan


Harapan, mungkin iya mungkin selalu merasakanya, tapi entah ini soal hatiku tak ada satu orang pun yang tau apa maksudnya. Merangkai luka bertepiskan rasa gelisah bertemankan angan belaka.

Cinta, selalu begitu setangkai bunga atau lebih yang kan melambangkanya (cinta), tak ada alasan logis tuk ku bersanding dengan dia terkecuali alasan tak sebanding

Hati, terasa resah, terasa bimbang, dan seolah terkikis oleh waktu yang membuat relasi di ruang itu seakan mendesakku untuk melangkah dan menutup celahnya

Masa depan, tak ada yang tau dengan itu bermainkan detik, bermainkan menit melewati masa lalu seakan tak bias detik yang bermain ataupun menit


Selangkah, langkahku akan merubah ketidakpastian dan rasa yang tak bersahabat dihatimu, langkahkan dengan kuat yakinkan dirimu untuk sebuah dorongan menuju kepastian