‘Rindu untuk
perangkai bunga’
12/01/2017
Aku zulfan, seorang lelaki perindu yang
merindukan sesuatu…
Malam itu pukul 7 tepatnya setelah
bersembahyang isya, ku bergegas pulang menuju kediamanku, dengan cepat kupacu
kendaraanku karena kondisi badanku yang lelah “tak sabar rasanya ingin
merebahkan tubuh ini”, lagi lagi jalanku tersendat oleh perempatan lampu merah
itu “ahh lagi lagi lampu merah ini, mana kondisi gerimis begini ramai sekali
jalan ini”, kataku menggerutu di dalam hati, ku perhatikan sudut kanan lampu
merah ada seorang gadis muda berikatkan rambut satu, sedang menata bunganya
yang tertutupi oleh plastik agar tidak terkena hujan ataupun cipratan air dari
kendaraan yang melintas, ku berfikir untuk menghampirinya “mbak bunganya masih
banyak keliatanya” tanyaku sambil menatap wajahnya yang teramat lelah sembari
tersenyum itu, “iya mas Alhamdulillah” ucap pedagang itu sembari tersenyum kembali,
“panggil saja saya ka zulfan, mengapa kamu masih berniat berdagang sedangkan
waktu ini sudah malam ?”, kataku sembari menatap kembali wajahnya yang hanya
tersenyum manis seakan tidak menyimpan beban dihatinya.. “ iya ka zul saya
hanya ingin tetap disini, karena siapa tau ada beberapa rezeki datang malam ini“..jawab
pedagang bunga itu.. “baik akulah yang akan membeli bungamu, keliatanya kamu
pandai merangkainya dengan baik, aku memilih mawar itu yang dihiasi beberapa
melati”, jawabku dengan penuh rasa iri terhadapnya, dia seorang wanita yang
kuat, dikala banyak orang mengeluhkan dengan segala kecukupanya dia tetap
tersenyum seakan beban itu tak ada.
Keesokan harinya ku kembali pulang menuju
tempat kediamanku karena tidak ada mata kuliah tambahan untuk hari ini,
kunyalakan lagi motor bebek ku yang setia mengantarku berpergian kemanapun, lagi
lagi jalanku tersendat di perempatan ini “sial selalu saja dengan jalan ini ,
ada apa sih dengan jalan ini kalau ada jalur alternative lain ku sudi melewati
jalan ini” ku kembali menggerutu di dalam hati.. tak berselang lama ku kembali
melihat gadis itu perangkai bunga sudut kanan lampu merah ini “itu bukanya dia
yang kemarin, sepertinya memang lokasi dia berjualan disini”.. ku menghampiri
kembali wanita perangkai bunga itu yang sedang menjajakan bunga daganganya
kepada pejalan kaki yang lewat ataupun hanya sekedar liat saja… “soree mbak,
kayaknya lumayan ya untuk hari ini” kataku sembari basa basi untuk menyapa dan
memulai obrolan, “eh sore ka zul, he’emm Alhamdulillah ini rezeki yang allah
berikan buat saya hari ini ka zul ”.. jawab gadis itu sembari merangkai beberapa
bunga agar terlihat cantik untuk menarik minat pembeli.. “oh iya mbak, aku
belum sempat menanyakan nama mbak kemarin, kalau boleh tau siapa nama mbak ? “..
tanyaku iseng-iseng, “ namaku hanifa ka zul, panggil saja hanif “.. jawab gadis
itu dengan senyuman khasnya,’ ku melihat ada satu kursi yang kosong
disebelahnya “ hanif bolehkah aku duduk disini “ jawabku dengan ekspresi wajah
yang cengar cengir.. “boleh ka zul silahkan saja, oh iya kenapa kaka tidak
pulang ? “.. Tanya gadis itu seakan dia mencemaskan bila ku didekatnya.. “ ok
terimakasih, aku bosan melihat jalanan ini, selalu saja begitu, kemacetan
setiap hari, membuatku terasa jenuh” jawabku sembari nada kesal dengan raut
wajah cemberut, lagi lagi gadis itu kembali tersenyum sembari berkata “ hmmm ka
zul ka zul itu sudah menjadi rutinitas lalu lintas itu disini, kecuali hari
raya pasti terasa sepi jalan ini “..’jawab gadis itu dengan nada yang sangat
lembut dan sangat menenangkan, tak terasa 2 jam berlalu obrolanku dengan gadis
itu, ku pamit dan bergegas kembali “ hanif maaf ga bisa lama-lama aku pamit
dulu ya, semoga dagangan mu cepat habis “.. jawabku sembari memegangi bunga
yang kembali kubeli dari gadis itu.
3 bulan berlalu setelah ku mengenal gadis
perangkai itu, hampir 1 bulan kebelakang ini aku tak mengeluhkan masalah
jalanan yang padat karena perempatan itu, sore itu aku kembali bergegas keluar
dari kampusku untuk menuju gadis perangkai bunga itu sembari pulang menuju
kediamanku, setibanya di tempat itu “ hanif gimana nih daganganya laku kayanya “
tanyaku karena sudah terbiasa dengan pertanyaan itu se akan menjadi basa basi
yang terus terulang, gadis itu pun menjawab “Alhamdulillah ka zul allah masih
mempercayakan rezekinya untuk hanif “ .. jawab gadis itu,.. ku berinisiatif
ingin memberinya makanan ,yang kubeli tidak jauh dari kampusku “ hanif kamu udah
makan belum ? kalau belum makan ini ya , kalau sudah ambil saja buat nanti “ kataku menawarkan sekotak bungkus nasi yang
selalu kubawakanya.. “ hmm kazul selalu begitu, kan aku sudah bilang hemat
hemat saja uang kazul, aku sudah makan kok “ jawab gadis itu dengan senyum yang
sepertinya sudah menjadi bagian dari karakternya.. lalu ku berkata “ ahh jangan
bohong, aku mendengar suara perutmu dari sini “ kataku sembari tertawa nakal terhadapnya..
makanan sudah habis , obrolan kami pun sudah terhitung lama untuk hari ini,
kebetulan daganganya habis sebelum adzan maghrib dia bergegas merapikan barang
barangnya, dia kembali berkata “ ka zul bila selama ini hanif selalu membuat
kazul repot maaf ya” kata gadis itu se akan
ada sesuatu yang disembunyikanya kepadaku,, “ tidak hanif aku merasa senang ,
malah aku yang merasa mengganggu mu karena setiap hari datang ke tempat ini “ ,
jawabku sembari tersenyum melihat matanya yang se akan memberi isyarat .. “
kazul aku sepertinya harus pulang sekarang mungkin ibuku sedang menungguku
dirumah “ jawab gadis itu , terlihat satu tetes air mata yang keluar dari
kelopak indah matanya , yang membuat ku penasaran mengapa dia hari ini begitu “
hanif kamu kenapa, adakah perkataanku atau sifatku yang menyinggung perasaanmu
? “ kataku dengan kebingungan yang ter amat sangat.. “ tidak kazul, kazul orang
baik , tidak pernah menyinggungku “ jawab gadis itu .. gadis itu pun berkata
kembali “ kazul jangan pernah mengeluhkan jalanan ini kembali ya “ jawab gadis
itu seraya berjalan meninggalkan tempat berdagangnya.
Keesokan hari seperti biasa ku kembali
mengunjungi tempat gadis perangkai bunga itu, ku terkejut mengapa hari ini dia
tidak ada, lantas ku kembali ke kediamanku, “mungkin hari ini dia tidak
berdagang”.. jawabku dengan tidak ingin berfikir negatif.. sudah seminggu
berlalu tapi dia belum terlihat di sudut kanan lampu merah itu ku selalu
menunggu dan menunggu kehadiranya, setelah sebulan kemudian aku bertanya kepada
orang sekitar tempat ia menjajakan bunga itu, ternyata kudapati surat dari
seorang bapak petugas kebersihan, yang berisi..
“ untuk kazul.. dari hanifa”
Hanifa
tak akan kembali berdagang bunga, kazul jangan selalu mengeluhkan kondisi
Perempatan
itu , mudahlah untuk tersenyum agar segala beban di hati kazul luntur
Tetap
ramah baik pada siapapun.
“salam
hangat hanifa”…
Ku tak paham isinya se akan gadis itu
menyampaikan pesan untuk beban dihatiku yang selalu kusimpan, seakan dia telah
menghapus beban itu tapi dia tak mampu menghapus memori tentang dirinya
dipikiranku, ku selalu menyimpan rindu ini , rindu untuk perangkai bunga.
Kata mutiara untuk cerpen ini (makna) : “jangan
keluhkan sesuatu yang selalu membuat hari indahmu terganggu liatlah dari sisi
lainya, kebahagian selalu datang dengan cara yang tak kau sadari bahkan bisa dari
kebiasaan mu “ ,
ketika
tiga pilihan mendesakmu ..
tidak ada air mata bila tidak ada kegagalan,
tidak ada amarah bila tidak ada dendam,
tidak ada senyuman bila tidak ada keiikhalasan
maka jadikanlah dan rubahlah selalu ada
senyuman karena selalu ada keikhlasan
@created by Ainur Ridwan
&
Rizka syahrir