Rabu, 11 Januari 2017

Rindu untuk perangkai bunga

‘Rindu untuk perangkai bunga’

12/01/2017
Aku zulfan, seorang lelaki perindu yang merindukan sesuatu…
Malam itu pukul 7 tepatnya setelah bersembahyang isya, ku bergegas pulang menuju kediamanku, dengan cepat kupacu kendaraanku karena kondisi badanku yang lelah “tak sabar rasanya ingin merebahkan tubuh ini”, lagi lagi jalanku tersendat oleh perempatan lampu merah itu “ahh lagi lagi lampu merah ini, mana kondisi gerimis begini ramai sekali jalan ini”, kataku menggerutu di dalam hati, ku perhatikan sudut kanan lampu merah ada seorang gadis muda berikatkan rambut satu, sedang menata bunganya yang tertutupi oleh plastik agar tidak terkena hujan ataupun cipratan air dari kendaraan yang melintas, ku berfikir untuk menghampirinya “mbak bunganya masih banyak keliatanya” tanyaku sambil menatap wajahnya yang teramat lelah sembari tersenyum itu, “iya mas Alhamdulillah” ucap pedagang itu sembari tersenyum kembali, “panggil saja saya ka zulfan, mengapa kamu masih berniat berdagang sedangkan waktu ini sudah malam ?”, kataku sembari menatap kembali wajahnya yang hanya tersenyum manis seakan tidak menyimpan beban dihatinya.. “ iya ka zul saya hanya ingin tetap disini, karena siapa tau ada beberapa rezeki datang malam ini“..jawab pedagang bunga itu.. “baik akulah yang akan membeli bungamu, keliatanya kamu pandai merangkainya dengan baik, aku memilih mawar itu yang dihiasi beberapa melati”, jawabku dengan penuh rasa iri terhadapnya, dia seorang wanita yang kuat, dikala banyak orang mengeluhkan dengan segala kecukupanya dia tetap tersenyum seakan beban itu tak ada.
Keesokan harinya ku kembali pulang menuju tempat kediamanku karena tidak ada mata kuliah tambahan untuk hari ini, kunyalakan lagi motor bebek ku yang setia mengantarku berpergian kemanapun, lagi lagi jalanku tersendat di perempatan ini “sial selalu saja dengan jalan ini , ada apa sih dengan jalan ini kalau ada jalur alternative lain ku sudi melewati jalan ini” ku kembali menggerutu di dalam hati.. tak berselang lama ku kembali melihat gadis itu perangkai bunga sudut kanan lampu merah ini “itu bukanya dia yang kemarin, sepertinya memang lokasi dia berjualan disini”.. ku menghampiri kembali wanita perangkai bunga itu yang sedang menjajakan bunga daganganya kepada pejalan kaki yang lewat ataupun hanya sekedar liat saja… “soree mbak, kayaknya lumayan ya untuk hari ini” kataku sembari basa basi untuk menyapa dan memulai obrolan, “eh sore ka zul, he’emm Alhamdulillah ini rezeki yang allah berikan buat saya hari ini ka zul ”.. jawab gadis itu sembari merangkai beberapa bunga agar terlihat cantik untuk menarik minat pembeli.. “oh iya mbak, aku belum sempat menanyakan nama mbak kemarin, kalau boleh tau siapa nama mbak ? “.. tanyaku iseng-iseng, “ namaku hanifa ka zul, panggil saja hanif “.. jawab gadis itu dengan senyuman khasnya,’ ku melihat ada satu kursi yang kosong disebelahnya “ hanif bolehkah aku duduk disini “ jawabku dengan ekspresi wajah yang cengar cengir.. “boleh ka zul silahkan saja, oh iya kenapa kaka tidak pulang ? “.. Tanya gadis itu seakan dia mencemaskan bila ku didekatnya.. “ ok terimakasih, aku bosan melihat jalanan ini, selalu saja begitu, kemacetan setiap hari, membuatku terasa jenuh” jawabku sembari nada kesal dengan raut wajah cemberut, lagi lagi gadis itu kembali tersenyum sembari berkata “ hmmm ka zul ka zul itu sudah menjadi rutinitas lalu lintas itu disini, kecuali hari raya pasti terasa sepi jalan ini “..’jawab gadis itu dengan nada yang sangat lembut dan sangat menenangkan, tak terasa 2 jam berlalu obrolanku dengan gadis itu, ku pamit dan bergegas kembali “ hanif maaf ga bisa lama-lama aku pamit dulu ya, semoga dagangan mu cepat habis “.. jawabku sembari memegangi bunga yang kembali kubeli dari gadis itu.
3 bulan berlalu setelah ku mengenal gadis perangkai itu, hampir 1 bulan kebelakang ini aku tak mengeluhkan masalah jalanan yang padat karena perempatan itu, sore itu aku kembali bergegas keluar dari kampusku untuk menuju gadis perangkai bunga itu sembari pulang menuju kediamanku, setibanya di tempat itu “ hanif gimana nih daganganya laku kayanya “ tanyaku karena sudah terbiasa dengan pertanyaan itu se akan menjadi basa basi yang terus terulang, gadis itu pun menjawab “Alhamdulillah ka zul allah masih mempercayakan rezekinya untuk hanif “ .. jawab gadis itu,.. ku berinisiatif ingin memberinya makanan ,yang kubeli tidak jauh dari kampusku “ hanif kamu udah makan belum ? kalau belum makan ini ya , kalau sudah ambil saja buat nanti “  kataku menawarkan sekotak bungkus nasi yang selalu kubawakanya.. “ hmm kazul selalu begitu, kan aku sudah bilang hemat hemat saja uang kazul, aku sudah makan kok “ jawab gadis itu dengan senyum yang sepertinya sudah menjadi bagian dari karakternya.. lalu ku berkata “ ahh jangan bohong, aku mendengar suara perutmu dari sini “ kataku sembari tertawa nakal terhadapnya.. makanan sudah habis , obrolan kami pun sudah terhitung lama untuk hari ini, kebetulan daganganya habis sebelum adzan maghrib dia bergegas merapikan barang barangnya, dia kembali berkata “ ka zul bila selama ini hanif selalu membuat kazul repot maaf ya”  kata gadis itu se akan ada sesuatu yang disembunyikanya kepadaku,, “ tidak hanif aku merasa senang , malah aku yang merasa mengganggu mu karena setiap hari datang ke tempat ini “ , jawabku sembari tersenyum melihat matanya yang se akan memberi isyarat .. “ kazul aku sepertinya harus pulang sekarang mungkin ibuku sedang menungguku dirumah “ jawab gadis itu , terlihat satu tetes air mata yang keluar dari kelopak indah matanya , yang membuat ku penasaran mengapa dia hari ini begitu “ hanif kamu kenapa, adakah perkataanku atau sifatku yang menyinggung perasaanmu ? “ kataku dengan kebingungan yang ter amat sangat.. “ tidak kazul, kazul orang baik , tidak pernah menyinggungku “ jawab gadis itu .. gadis itu pun berkata kembali “ kazul jangan pernah mengeluhkan jalanan ini kembali ya “ jawab gadis itu seraya berjalan meninggalkan tempat berdagangnya.
Keesokan hari seperti biasa ku kembali mengunjungi tempat gadis perangkai bunga itu, ku terkejut mengapa hari ini dia tidak ada, lantas ku kembali ke kediamanku, “mungkin hari ini dia tidak berdagang”.. jawabku dengan tidak ingin berfikir negatif.. sudah seminggu berlalu tapi dia belum terlihat di sudut kanan lampu merah itu ku selalu menunggu dan menunggu kehadiranya, setelah sebulan kemudian aku bertanya kepada orang sekitar tempat ia menjajakan bunga itu, ternyata kudapati surat dari seorang bapak petugas kebersihan, yang berisi..
“ untuk kazul.. dari hanifa”
            Hanifa tak akan kembali berdagang bunga, kazul jangan selalu mengeluhkan kondisi
            Perempatan itu , mudahlah untuk tersenyum agar segala beban di hati kazul luntur
            Tetap ramah baik pada siapapun.
            “salam hangat hanifa”…
Ku tak paham isinya se akan gadis itu menyampaikan pesan untuk beban dihatiku yang selalu kusimpan, seakan dia telah menghapus beban itu tapi dia tak mampu menghapus memori tentang dirinya dipikiranku, ku selalu menyimpan rindu ini , rindu untuk perangkai bunga.
Kata mutiara untuk cerpen ini (makna) : “jangan keluhkan sesuatu yang selalu membuat hari indahmu terganggu liatlah dari sisi lainya, kebahagian selalu datang dengan cara yang tak kau sadari bahkan bisa dari kebiasaan mu “ ,
 ketika tiga pilihan mendesakmu ..
tidak ada air mata bila tidak ada kegagalan,
tidak ada amarah bila tidak ada dendam,
tidak ada senyuman bila tidak ada keiikhalasan  
maka jadikanlah dan rubahlah selalu ada senyuman karena selalu ada keikhlasan

@created by Ainur Ridwan
&
Rizka syahrir




Tidak ada komentar:

Posting Komentar